SAAT DIRI INI BUKAN PRIORITAS

Ini nasihatnya ya..

“Jangan Robohkan Pagar kalau Kita Tidak Tahu untuk Apa Pagar itu didirikan” Cantik kan?

Kita jalan-jalan di hutan, seperti saya waktu masih muda dulu. Pulang kuliah ambil pisau, tali, tongkat, jalan naik gunung. Itu sebabnya saya rajin sekali kuliah supaya segera selesai. Cepet-cepet pulang. Waktu matahari masih bagus, kemudian saya naik lalu pulang menjelang Maghrib. Dari gunung naik gunung. Bukit di belakang rumah itu saya naik menyukai hutan itu.

Nah, suatu ketika saya melihat pagar di dalam hutan. Aneh sekali, saya sudah lewat jalur itu beberapa kali tapi tidak pernah lihat pagar. Hari itu saya melihat pagar rapiii gitu, luruuus, jalanan tanah di dalamnya tu halus begitu luruuus. Saya tu mau masuk gak, mau lewat gak gitu, lalu ingat pesan Ayahanda saya, beliau bilang “kalau kamu ketemu jalang di hutan jangan kamu masuki. Itu jalan yang mungkin membuat kamu tidak pulang. Atau pulang setelah sekian lama yang kamu rasa hanya sebentar.” Pak Mario: “Jalan apa itu Pak?”. “Pokoknya jalan orang-orang halus”.

Saya melihat di situ ada pagar. Saya robohkan gak pagar itu? Tidak, karena saya pegang konsep ini. “Jangan Robohkan Pagar Kalau Kita Tidak Tahu Untuk Apa Pagar Itu Didirikan”.

Kebaikan itu pagar.

Ini kebaikan, lalu dibongar, dihapus di sini. Kedubrak begitu ya.

Nih, kalau kebaikan pagarnya dibongkar, yang masuk adalah keburukan.

Jadi orang yang mendobrak, membongkar pagar kebaikan itu mengijinkan keburukan masuk. Hayo, berani maksa lagi nasihat orang tua, dibantah?